Kali ini aku ingin sedikit bercerita. Cerita tentang tangisan pertamaku dalam kehidupan berumah tangga bersamanya. Mungkin bukan benar-benar yang pertama –kalau kalian paham betapa mudahnya aku menitikkan air mata. Tapi setidaknya ini tangisan pertama yang kuingat karena dalamnya kesedihan saat itu.

Ceritanya baju suamiku kelunturan. Ya, kelunturan. Dari kemeja yang tadinya putih bersih menjadi berwana merah muda. Satu baju terwarnai sempurna. Depan belakang atas bawah kanan kiri. Sampai temanku yang melihatnya menyangka kemeja itu memang berwarna merah muda. Hiks. Bahkan bukan hanya bajunya saja, ada beberapa bajuku juga ikut menjadi korban. Tapi baju inilah yang kutangisi. Bukan apa-apa, pasalnya ini adalah kemeja yang dia pakai saat mengucapkan janji itu. Saat Arrasy-Nya bergetar karena ucapan janji sehidup semati yang ia tujukan untukku. Ya, itu adalah kemeja yang ia pakai saat akad nikah kami, 10 Juli yang lalu.

Mungkin bagi sebagian kalian aku berlebihan ya. Nanti dulu, masalahnya tidak sesederhana itu.

Setelah tragedi baju kelunturan itu, aku merenung semalaman dan pada akhirnya menyadari satu hal: ini adalah teguran Allah untukku.

Aku memang terbiasa memakai jasa laundry untuk semua pakaian-pakaianku –kecuali yang membutuhkan penanganan khusus. Sejak boarding school di SMA, aku memang belum terbiasa mencuci-menjemur-menyetrika sendiri. Jujur saja. Karena sejak dulu aku ini tomboy, tidak menyukai pekerjaan rumah, apalagi didukung dengan orangtuaku yang memang tidak mengizinkan aku menyetrika –karena sudah tidak terhitung baju yang kubolongi dengan setrika dan aku pernah hampir membakar rumah dengan setrika. Pada akhirnya mencuci-menjemur-menyetrika menjadi pekerjaan yang hanya kukerjakan dengan frekuensi sangat jarang.

Sampai akhirnya tragedi ini terjadi.

Padahal Allah sudah menjanjikan pahala yang sangat besar bagi istri-istri yang mencucikan pakaian keluarganya. Padahal sudah Allah berikan aku kesehatan dan kemampuan untuk bisa berbakti lebih kepada suami. Padahal kalau mau mengoptimalkan waktu dengan baik, aku pasti bisa mengalokasikan waktu untuk mengerjakan pekerjaan mengurusi pakaian kotor itu. Padahal dan padahal. Intinya aku tidak seharusnya membiarkan peluang pahala yang sangat besar itu hilang begitu saja menjadi pahala mbak-mbak laundry. Haha.

Pelajaran kedua, aku baru menyadari bahwa sebelum me-laundry semua pakaian itu, sempat terjadi pertengkaran kecil di antara kami. Suamiku, karena kami baru membeli beberapa pakaian baru –yang menjadi penyebab lunturan itu, berkata biar dia yang mencuci pakaian yang baru, karena toh paling hanya butuh direndam saja. Tidak perlu dikucek atau disikat susah payah. Tapi aku menolak. Sebenarnya saat itu sama sekali tidak ada niatku untuk membantahnya, namun nyatanya yang terjadi adalah seperti itu. Aku yang sesungguhnya hanya tidak mau dia yang mencucikan bajuku –sementara saat itu aku masih sibuk dengan tugas-tugas koasku, malah jadi melawan dan membantah perkataan suamiku.

Kemudian terjadilah tragedi ini.

Manusia memang tidak boleh berandai-andai tentang kejadian di masa lalu. Namun aku hanya ingin memetik pelajaran dari ini semua, karena mungkin seandainya waktu itu aku tidak melawan perkataan suami dan mematuhinya, kejadian itu tidak akan terjadi.
Baru saat itu aku merasakan tamparan pertama dalam misi perjalanan menjadi istri ini. Bahwa sekarang ridho Allah untukku sudah berpindah tangan kepada ridho suamiku. Aku mungkin tidak tahu apa yang ada di benaknya saat itu, tapi mungkin saja saat itu dia tidak ridho dengan aku tidak menuruti perintahnya. Jadilah teguran Allah ini datang kepadaku.

Malam itu aku terisak. Yang kuingat hanya ucapan istighfar yang terus kuulangi sepanjang malam. Yang kuingat hanya pelukan hangatnya yang terus berkata, “sudah tidak apa-apa, ini bukan salah siapa-siapa.” Sambil sesekali menggodaku, “masa perempuan kuat nangis gara-gara baju?”

ya, mungkin bagimu ini hanya sekadar tentang baju. Tapi bagiku, ini adalah tentang mengikhlaskan peranku, yang sekarang telah menjadi istrimu.

IMG_20160903_080637.jpg

Begini hasil kelunturannya :(((

just-married

What are you thinking of being a Mrs?

It’s definitely a housekeeping, having a child, or cooking, or even doing the laundry.

Well it’s a surely yes, but believe me, when it comes to the reality, it’s all bigger than that. And for all of us, it must be a big change in our life. More than just a change in our routine, or our accounting plan, or our room mate. Being a Mrs is a change in our life. It started with our routine, then in our way of thinking, then in our behavior, and the last, it’ll become the change in our dream.

My previous thinking about marriage is not that big. It’s kind of natural. Like a bud becomes a flower. There’s nothing so special about it. It’ll happen with no wonder. But the fact is, I know now, that this is a natural thing that has a super big potential in it. Potential in what?

First, marriage teaches us about being in commitment. It needs an integrity to prove it. We (I and my spouse, of course) made a promise to love each other, endlessly. That means we still have to love each other in our fight, our debate, our weaknesses, our misbehavior, and all our horrible times. Well I’ll tell you, that is definitely not an easy thing to commit. Even with your truest best friend, you must need someone else and eventually some new friends so that you won’t get bored with each other, right? Yet you can’t look for someone else to replace your spouse once you married him. Like him or not. Boring or not. Happy or sad. This is what I still learn until now, and you can’t prove you can do it until you do it.

Second, I learn so much about myself. This is what I didn’t think about at the first. You know, some of us may say that we have known ourself pretty good. We could mention –if somebody ask our good or bad, such as I’m good at drawing, I’m so bad at waiting, or I’m a fast learner, good at public speaking, bad at time managing, and so on. We may think that we know ourself well. But until the day you get married, you just know that you, in fact, don’t really know your self that good. Trust me.

You start to know that you’re so impatient, that you’re so annoying, that you’re super lazy, or even that you’re good at cooking! Something you’ve never known about yourself before. That is why being a married woman will tell you so many things about yourself that you could improve, or, you are so advised to emmit it. So no doubt, you’re gonna accelerate yourself in becoming a better person you wanna be! (this part will make you very grateful to have somebody who loves you no matter how frustrating weaknesses you found in your self.)

So the third potential that I just know marriage could bring is that we could dream bigger. YES, it’s a lot BIGGER! If you know my self, I’m a big dreamer (with big action too, I hope). But after I got married, my husband just give me so many other way to dream bigger. We talk, we discuss, we let our imagination lead us to realize things that we only keep in our heads before. That is when I realize that you don’t need your spouse to just pay your bills, or pick you up anywhere you go, or warm your body when you’re cold, or be your partner in your friend’s wedding party. You have to look for someone beyond it. Especially if you’re a dreamer, like me, whom the biggest dream is to make this world a better place, find someone who will exceed your power of dreaming! It’s not always about make it a bigger dream, but it can also be the first step you’ll take for your dream to be come true. It’s like you don’t know how to realize it before, but now you know how to start it! Doesn’t that mean a giant leap?

These are just three things of uncountable potentials that marriage could bring to me. Hope I could write you the next part to elaborate more about it. Cheers for your wonderful life!

“Love is less about the destination and more about the beauty of the journey.. make it unforgettable” – Mr. Amari Soul

flower-gardenSebuah puisi yang tidak indah. juga tidak manis. Hanya sebuah pengantar bagi seseorang yang spesial, yang sekarang memasuki fase baru dalam hidupnya, sebagai seorang istri. Sebagai seorang pendamping hidup. Sebagai seorang kekasih. Hanya ingin mengatakan bahwa kami pernah ada di posisinya saat ini, menyayangimu, dan akan selamanya, menyayangimu. 🙂

Amm Intan, maukah kau kubacakan sesuatu tentang dirimu?
Bukan bermaksud merayu, karena aku bukan pujangga lagu
Bukan pula untuk membuatmu tersipu, karena tanpaku pun hari ini kau telah tersipu oleh pria di sampingmu
Aku hanya ingin bercerita, cerita yg selamanya akan mengingatkanku tentangmu

Ada sekuntum bunga, yg diamnya membuat rumput di sekitarnya ikut terdiam juga
Ketika sebelum ia mekar, diserapnya tetes embun yg pertama,
Meski beku dan pahit rasanya
Sebelum ia mekar, diajarinya rumput tentang apa arti kesabaran
Tentang apa arti berproses bersama
Tentang apa arti mengisi dan menghidupi
Karena itu rumput mampu bersenandung riang tak peduli kemarau yg panjang

Saat ia mulai mekar, sang bunga bergurau dengan rumput-rumputnya
Apakah ada di dunia ini yg bisa mencuri bahagianya?
Rumput hanya ikut tersenyum mengikuti tarian kehidupan sang bunga
Mengikuti gerakan bunga ketika angin meniupnya
Aduhai betapa rumput telah tersihir oleh pesonanya

Amm Intan, cerita tentang bunga selalu menceritakan tentangmu
Dandelion yg menyebarkan kebahagiaan bersama angin yg meniupnya
Lili yg membawa kedamaian dengan kehadirannya
Tulip yg selalu membuat semua orang menanti kehadirannya
Matahari yg akan menarik siapa pun yg memandangnya
Mawar yg indah dipandang namun tak semua orang mampu meraihnya

Kamu adalah cerita tentang bunga
Cerita tentang bunga yg tak pernah layu, meski kemarau menahun lamanya
Meski kumbang menyakiti putiknya
Meski kupu-kupu menghisap habis madunya
Meski rumput membuatnya menangis dan tertawa bersama

Kamu, Amm Intan. Adalah cerita tentang bunga.
Bermekaran selalu dan selamanya, dalam hati kami, rumput di taman bunga.

 

– Nisa Salsabila

kalau pijakan langkahmu adalah senang atau benci, maka ketahuilah aku takut engkau cintai. Sebaliknya jika engkau bergerak dengan mempertimbangkan baik atau buruk, maka dambaanku adalah engkau mencintaiku..

— EAN

Maka mulai hari ini, izinkan aku bawa rasa ini pulang

Kembali pada hakikatnya yang sederhana

Sesederhana cinta matahari kepada buminya

Sesederhana cinta tanah kepada hujannya

Sesederhana cinta manusia pada nafasnya

Karena aku akan mulai mencintaimu dengan hati yang baru

Yang tak lagi peduli pada keringnya air mata atau pun sakitnya perasaan rindu

Hanya sederhana, dan ringan-ringan saja

Karena perasaan ini terlalu indah untuk kujadikan layaknya hukuman Tuhan

Karena aku hanya akan terhinakan jika kujadikan perasaan ini alasan

Jika memang cara mencintaimu adalah sesederhana bernafas bagiku,

Maka jadilah aku,

Baru akan kau rasakan betapa mudahnya mencintaimu

Ketika semua kenangan hanya berbalas ruang hampa

Ketika berderai air mata hanya mengisi sepi yang tak bernyawa

Tak sadar bahkan setelah sampainya nafasku padamu

Jika kau jadi aku,

Apa yang akan kau lakukan?

Ketika kau menunggu dan ia hanya menepi

Ketika senja matahari tak bersambut terbitnya bulan yang sendiri

Adakah kau bisa menghayati?

Jika kau jadi aku,

Apa kau akan bisa merasakan ini?

mimpi semalam masih bergelayut di pelupuk pagi

bahwa segala dalam duniaku kini

masih saja tentangmu

dan lagi-lagi tentangmu

malam ini panggilan darimu

kemarin malam siluet bayangmu

malam sebelumnya ada suaramu

apakah ini masih duniaku?

bersila di puncak bukit cinta, tetap tak kudengar dentingnya

mengapa bisa rindu pada yang tak pernah ada?

hatiku berkata: apa benar semuanya harus berakhir?

jawabannya menyiksa: kapan pernah kau mulai cinta?

rindu itu hanya curianmu

kembalikanlah, pada Ia yang mencipta rindu

rindumu padanya yang tak berhak kau rindu

curian itu, masihkah menipu?

aku seperti tergeletak di hamparan pasir tak berujung

semakin kugenggam ia, semakin banyak aku kehilangannya

O, rindu

haruskah saat ini kukembalikan kau yang hanya menyiksa?

Kejora, 8.06 pagi

di luar hujan sangat lebat

dreams-quotes-03

*sebentar, bersihin sarang laba-laba dulu. hehe*

setelah lama ga posting, akhirnya malam ini memutuskan harus banget menumpahkan suara hati ke dalam blog ini. harus mulai darimana ya? ah, entahlah.

Berbicara tentang memulai sesuatu, ceritanya entah mengapa tahun ini begitu banyak kisah-kisah yang memulai bab selanjutnya dalam novel klasik bernama roman kehidupan. mulai dari memulai kehidupan baru sebagai seorang sarjana, sebagai seorang istri, bahkan sebagai seorang ibu.

Ah, entah bagaimana perasaanku saat ini ketika menuliskannya. Ada bahagia yang membuncah, namun juga haru yang perlana menyelusup dengan sangat halus hingga memicu kelenjar lacrimalisku mengeluarkan air matanya.

Menyaksikan satu per satu berita bahagia mereka, dan begitu pun aku. 

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, izinkan kucurahkan rasaku, yang membuatku selalu tersenyum dalam tangisan setiap merasakannya..

Teruntuk sahabat-sahabatku,

Menjadi manusia memang sangat spesial ya? Tapi karena setiap hari kita bertemu dengan manusia juga, kadang kita tak menyadari betapa spesialnya kita, sebagai seorang ciptaan, sebagai seorang makhluk. Kita bisa berpikir, kita bisa memutuskan. Tak seperti halnya gunung, burung, air di lautan, yang tak bisa memilih kemana dirinya harus berlayar, kemana mereka harus melangkah. Hanya kita yang mampu melakukannya.

Dan dari keistimewaan itu lah, tercipta jalan hidup yang berbeda dari setiap kita. Tak pernah ada yang sama. Aku, kamu, Bapak penjual asongan di stasiun, Pelari maraton di Athena sana, atau bahkan seorang guru di pelosok pedalaman sana. Kita semua hidup dalam rangkaian sekuel konsekuensi dari pilihan-pilihan hidup kita.

Dari pilihan-pilihan hidup yang kita jalani itu, setiap pilihannya akan membuka lembaran baru dari kisah kecil sejarah hidup kita. Mengawali bab baru dari roman seorang manusia. Dan luar biasanya, setiap lembaran baru itu adalah lembaran putih yang tidak sama sekali terpengaruh seberapa pun hitam dan hancurnya bab-bab pendahulunya. A whole brand new.

Maka jadilah setiap akhir yang mungkin kau rasakan, sesungguhnya adalah awal dari kisah perjalananmu di bab yang selanjutnya. Jadilah apa-apa yang kau alami dan kau tuai di bab hidupmu sebelumnya, menjelma menjadi bekal demi menorehkan tulisan yang lebih cantik dan lebih bersih di catatanmu selanjutnya. Demi tak terulangnya lagi kesalahan-kesalahan, demi adanya sebuah harapan akan akhir yang lebih baik.

Oleh karena itu, aku hanya ingin mengucapkan selamat. Selamat untuk kamu, dan juga aku.

Kita akan bersama terus menjalani bab demi bab dalam hidup yang terus menawarkan keajaiban-keajaibannya, dan selamanya saling menguatkan dan menertawakan dalam perjalanan yang tak pernah berjalan mundur ke belakang ini.

Capaian-capaian mimpi kita satu per satu akan terlaksana, pada waktunya. Yakinlah. Bahwa Allah yang Maha Mengetahui, kapan saat yang tepat bagi kita, dimana kebahagiaan akan terasa begitu indah dalam keberkahan dari-Nya. Karena itu tidak ada gunanya kamu iri kepada ia yang mungkin mencapai mimpinya lebih dulu darimu, atau yang capaiannya lebih tinggi dari apa yang kau capai sekarang. Karena percayalah, selama asas kebermanfaatan sebagaimana filosofi mata air yang akan memberikan kehidupan bagi setiap apa yang dilewatinya, maka tak pernah ada celah untuk merasa kecewa pada dirimu. Kau akan selalu memberikan yang terbaik dalam tiap langkah yang sedang kau tapaki, dan alam di sekitarmu akan merasakan kebermanfaatanmu yang akan membuat mereka menengadahkan kepala dan mengucap syukur kepada Rabbnya karena dipertemukan dengan dirimu.

Karena itu teruslah menginspirasi. Dengan setiap fase yang sedang kau jalani. Jadilah mahasiswa terbaik, sarjana terbaik, dokter terbaik, istri terbaik, ibu terbaik, hingga akhirnya kau menjadi hamba yang terbaik karena selalu memberikan kebermanfaatan dari setiap langkah yang sedang kau jalani.

Dan jangan pernah berpikir untuk melakukan segalanya demi dirimu. Karena di sana lah letak rasa kesendirian itu akan muncul. Karena tidak akan pernah ada yang mau merangkulmu saat kau terjatuh, dalam perjuanganmu menyelamatkan egomu sendiri.

Karena itu berjuanglah untuk-Nya. Untuk segala amanah yang Ia titipkan kepadamu. Untuk mengukir sedikit senyuman pada wajah mereka yang menaruh harapan mereka di atas pundakmu. Atau untuk sekadar membuktikan rasa cintamu. Lakukanlah untuk menjadikan dirimu bisa membawa kebaikan yang semakin luas dan terus meluas.

Hingga langit pun akan tersenyum dan berterimakasih kepadamu.

 

Teruntuk teman-teman dan kakak-kakak yang baru saja berwisuda, sahabat-sahabat yang baru saja menikah atau baru saja memiliki adik bayi yang lucu, dan terutama, untuk keluarga PPSDMS angkatan VI yang baru saja memasuki fase baru dalam hidup kita, yaitu menjadi Alumni PPSDMS.

Yakinlah, bahwa jika kau berpikir kehidupan pasca asrama kita akan lebih mudah, maka kau salah. Justru di sinilah perjuangan akan bersama kita mulai. Demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Salam generasi strategis! 🙂